Pelakor dan Cara Menghadapinya
Perselingkuhan tentu saja bukan hal yang bisa dibenarkan.
Ketidaksetiaan suami melukai hati istri dan anak-anak yang juga menjadi korban
saat orangtuanya bercerai. Pada zaman dahulu, memang dari sebagian besar para
pria mempunyai lebih dari seorang istri bahkan dapat menikah berkali-kali.
Namun, seiring berjalannya waktu kesetiaan mulai tumbuh hingga hal itu berubah
menjadi suatu yang biasa. Seperti halnya yang telah dicontohkan mantan Presiden
kita, yaitu Bapak Habibie yang setia sehidup semati dengan Almarhumah Ibu
Ainun.

Kemudian, belakangan ini muncul lagi suatu hal yang
pernah ada di masa lalu yaitu adanya istri simpanan. Perempuan yang menjadi
istri kedua dikenal dengan sebutan pelakor atau perebut laki orang (orang
ketiga). Para pelakor yang “terciduk” para istri sah atau istri pertama pasti
akan viral di dunia maya karena istri sah mengungkapkan hal itu melalui
curhatan.
Curhatan itu lalu dibaca banyak orang hingga
akhirnya booming. Setelah itu, sang
pelakor akan mendapat ribuan hujatan dari para netizen. Hujatan itu bukan tak
beralasan, sesama kaum wanita tentunya akan mampu merasakan hal yang sama
dengan para istri sah. Wanita memang lebih mementingkan perasaan ketimbang
logikanya, sehingga kejadian itu bukan suatu yang mengherankan.
Kalau
begitu, apa yang harus anda ketahui sebagai seorang istri?
Menyembuhkan diri dari pengalaman tersakiti akibat
diselingkuhi akan membuat Anda harus membuka diri untuk bisa memahami “musuh”
Anda dan meningkatkan empati. Dengan begitu kemungkinan memaafkan jauh lebih
besar.

Memaafkan bukan berarti membenarkan perbuatan yang
telah mereka lakukan, namun hal ini akan mengurangi beban penghianatan yang
menggelayuti perasaan Anda. Berikut ini 3 fakta tentang pelakor yang perlu Anda
ketahui:
1.
Kemungkinan si pelakor juga merasa bersalah
Satu hal penting tentang pelakor yang harus diketahui semua istri adalah, dia bisa merasa bersalah atas hubungannya yang merusak rumah tangga orang lain. Bahkan, dia juga bisa mengalami frustasi dan depresi akibat hal ini.
Namun ada pula beberapa wanita yang tidak merasakan
penyesalan sama sekali, akan tetapi ini jarang terjadi. Dan hal terpenting yang
harus Anda ingat, semua wanita, seberapapun kejamnya dia pasti memiliki
perasaan. Mungkin dia tidak akan meminta maaf, namun rasa bersalah yang
menggelayuti hatinya seumur hidup semestinya bisa membuat Anda bersimpati
padanya. Sebab, dia tidak akan pernah hidup tenang menanggung rasa bersalah
tersebut.
2.
Dia merasa tidak berdaya karena telah jatuh cinta
dengan pria beristri
Pelakor seringkali terlalu larut dalam hubungan,
hingga selalu mencari pembenaran atas apa yang sedang dia lakukan. Dia dengan
sepenuh hati percaya bahwa dia tidak akan bisa meninggalkan pria yang ia
cintai, walaupun dia sudah beristri.
Pelakor biasanya hanya fokus pada kebutuhan dia
sendiri, tanpa menyadari bahwa apa yang ia lakukan telah menyakiti orang lain.
Tentu saja, hal ini tidak membenarkan apa yang ia perbuat.
Namun, Anda harus tahu bahwa sebuah perselingkuhan
terjadi bukan karena kesalahan istri atau karena ada kekurangan di dalam
dirinya. Ini adalah kesalahan suami dan selingkuhannya, yang telah
mencederai kesucian pernikahan.
3.
Dia percaya bahwa ada harapan untuk hubungannya
Setiapkali kasus perselingkuhan terjadi, yang
menerima hujatan dan cacian pastilah si pelakor. Padahal, suami dan para
laki-laki yang selingkuh juga melakukan kesalahan. Bahkan sering terjadi,
seorang laki-laki punya selingkuhan lebih dari satu, sedangkan ia sudah
beristri.
Para pria yang selingkuh membuat banyak janji palsu,
seperti akan menceraikan istri demi selingkuhan, dan akan menikahi si
selingkuhan suatu hari nanti. Apapun ia katakan agar selingkuhannya tetap mau
berhubungan dengannya.
Yang membuat sebuah perselingkuhan makin menyakitkan
dan susah dimaafkan adalah, berpikir bahwa wanita lain sengaja menghancurkan
rumah tangga Anda. Mengetahui bahwa tidak semua wanita bermaksud jadi pelakor,
mungkin akan memberi Anda ketenangan, atau malah bisa membuka jalan untuk
memaafkan.
Agar Anda bisa melanjutkan hidup ke arah lebih baik,
sebaiknya melepaskan beban di hati. Memaafkan akan memberi Anda ketenangan
batin, meskipun orang tersebut tidak layak dimaafkan, atau sama sekali tidak
meminta maaf.
Dengan memaafkan, Anda bisa menatap masa depan
dengan lebih baik. Dan menghargai kebahagiaan yang datang setelah pahitnya
penghianatan.
Komentar
Posting Komentar